Bila sebuah paguyuban, perkumpulan atau komunitas perantau dengan mencantumkan nama daerah asal kabupaten atau kota atau merujuk dari wilayah/ daerah , tentu lazim sering kita tahu. Selama ini, seperti Suling Mas (Banyumas – Jateng), Sanyuri (Santi Paguyuban Kediri – Jatim) dll misalnya. Tapi, ini sungguh lain. Mereka adalah kaum perantau asal sebuah desa, yang bermukim di kota besar (Jakarta). Yang saya maksud adalah, ARAK (Anak Rantau Ketanggan), perantau dari desa Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Keberanian
kaum perantau berkumpul Meski baru berusia 1Tahun, dibentuk awal 2014 lalu, ARAK telah melesat dengan dasar yang
kuat yaitu silaturahmi sesama perantau satu desa, dengan menuangkan
AD/ART (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) dalam sebuah akta
pendirian di notaries. Membaca sekilas isi AD ART-nya, saya kagum akan
kemampuan mereka menorganisir paguyuban dengan berbegas menyusun
kepungurusan (struktur organisasi), menghimpun kas, membuat program
kerja, dan bersosialisasi tak hanya bagi anggota dan calon anggotanya,
pula melalui media.
menghadirkan tiga
orang pegiat ARAK masing masing kauyin Fuck, Ahmad Mufidin dan Mus Tain,
terungkap mereka berhimpun dan berorganisasi karena persamaan nasib
seperantauan di Jakarta. Setidaknya, tak hanya silaturahmiu atar
anggotanya di Jakarta yang baru tercatat 200 orang anggota, mereka juga
ingin menyumbangkan pemikiran, ide dan apapun yang mereka mampu untuk
kampong halamannya di Ketanggan, Batang Jateng.
Menurut Ahmad Mufidin, anggota yang terdata berlatar belakang beragam, mulai dari
perantau yang bekerja di sektor informal, wiraswastawan, wirausahawan, hingga aparat, mahasiswa, semuanya sangat aktif
berkontribusi bagi paguyubannya. Mus tain yang datang ke Jakarta pada
tahun 96an, memilih merantau karena tuntutan memperbaiki kehidupan yang
lebih baik secara ekonomi, kini menjadi pedagang yang cukup menggiurkan di
jalan Tawakal 11 Jakarta Pusat.
Sementara Kouyin Fuck, sesuai namanya merantau ke Jakarta sejak tahun 1990.
Setelah beberapa pekerjaan ditekuninya, kini memilih usaha mandiri
dengan membuka toko matrial di jalan Tomang Tinggi jakarta. “Saya memilih merantau
ke Jakarta karena waktu itu ndak mungkin melanjutkan membantu orang tua
saya bertani. Desa kami hanya mengandalkan pengairan system tadah
hujan, sehingg sulit untuk mengembangkan pertanian”, kata kouyin menjawab
pertanyaan saya saat pertemuan.
Hal-nya kesuwan, yang merantau di jakarta sejak 9 tahun lalu, pilihan merantau ke kota besar adalah pilihan terbaik bagi dirinya.
Hal-nya kesuwan, yang merantau di jakarta sejak 9 tahun lalu, pilihan merantau ke kota besar adalah pilihan terbaik bagi dirinya.
Desa
Ketanggan sebenarnya desa yang tak sulit ditemukan, bila kita melakukan
perjalanan darat melalui kereta api. Desa ini desa yang lengkap secara
geografis, pasalnya miliki dataran tinggi, kawasan perkebunan, lahan
hutan produksi, sawah, bahkan sekaligus desa pesisir pantai. Jadi bila
kita naik kereta api, melalui pantura, kita bisa menemukan desa ini
setelah melewati stasiun Tegal, Pekalongan, Batang dan Kendal. Diantara
stasiun Batang dan Kendal, ada stasiun kecil, namanya Plabuan. Nama
Plabuan adalah salah satu pedukuhan di desa Ketanggan.
KETANGGAN ; Pesisir, Sawah & Perkebunan
Membaca seksama potensi desa ini melalui http://asalmenang.blogspot.com/2013/12/desa-ketanggankec-gringsing-kab-batang.html
yang diakses pada Kamis, 25 Juni 2015 pukul 01:30 WIB, digambarkan umum
Desa Ketanggan merupakan desa yang terletak di kecamatan Gringsing,
Kabupaten Batang Jawa Tengah, sekitar 7 km dari pusat kota. Luas desa
Ketanggan 1.061.739 Ha terdiri atas sawah dan lahan kering, terletak
pada koordinat 060 56’ 660” S dan 1090 57’ 166”.
Desa
Ketanggan Terdiri dari 28 RT dan 7 Dukuh diantaranya yaitu Sidorejo,
Sipelem,Bantaran, Rancangsari, Ketanggan, Sidosari dan Plabuan. Masing –
masing pedukuhan dipimpin oleh seorang ketua RW. Pedukuhan Plabuan
merupakan pedukuhan yang terletak paling dekat dengan pantai utara jawa
dan sebagian besar penduduknya adalah nelayan. Pedukuhan ini dilintasi
juga oleh rel kereta api jalur pantai utara
j
awa. Terdapat sebuah
stasiun kecil di desa ini yang biasa digunakan oleh wisatawan untuk
transit sebelum menuju ke lokasi pantai yang terdapat di dukuh ini.
Batas wilayah desa nya, Utara - Laut jawa, Selatan Desa Penundan dan
Desa Timbang, sebelah barat Desa Sawangan, dan timur Kecamatan Limpung.
Lokasi
yang terdapat abrasi paling buruk adalah pada koordinat 060 55’ 180” S
dan 1090 57’ 029”. Selain itu kondisi ini diperparah dengan tidak adanya
hutan mangrove di sekitar pantai. Hal ini dikarenakan masyarakat
sekitar tidak melakukan perawatan terhadap mangrove yang telah ditanam.
Warga
masyarakat desa Ketanggan mayoritas berpendidikan lulusan Sekolah Dasar.
Sehingga menyebabkan tingkat pendidikan di desa Ketanggan masih rendah.
Namun demikian masyarakat Ketanggan memiliki jiwa sosial yang tinggi.
Hal ini ditunjukkan dengan adanya banyaknya kegiatan sosial yang menjadi
adat warga desa Ketanggan. Adat tersebut dipercaya bisa digunakan untuk
menolak bencana, selain itu juga sebagai perwujudan syukur kepada allah
atas hasil yang didapat. Beberapa adat tersebut adalah legenongan atau
bersih desa, sedekah bumi, dan nyadran atau sedekah laut. Selain itu
juga ada kegiatan sosial lainnya yaitu pengajian rutin karena sebagian
besar warganya adalah pengikut kelompok Nahdatul Ulama. Total penduduk
yang tinggan di desa Ketanggan adalah sejumlah 6.041 warga dan semuanya
adalah pemeluk agama islam. Dari jumlah total tersebut, 3.539 warga
lebih dari 50% warga masih berpendidikan rendah yaitu tamatan sekolah
dasar (SD) bahkan ada yang belum tamat. ( Sumber: Statistik potensi desa
Ketanggan 2013)
Warga
masyarakat desa Ketanggan mayoritas bermata pencaharian sebagai petani
dan buruh perkebunan. Walaupun lokasinya di daerah pesisir namun luas
pantai dan luas wilayah perkebunan lebih luas area perkebunan dan
pertanian. Kondisi persawahan di desa Ketanggan mengandalkan pasokan air
dari air hujan dan dari sarluran irigasi. Selain itu adanya PTP Siluok
Sawangan disatu sisi menjadi tempat mencari nafkah warga sekitar namun
disisi lain juga merugikan desa dengan rusaknya jalan desa. Banyaknya
truk – truk pengangkut hasil perkebunan yang melewati jalan desa
sehingga merusak jalanan desa. Namun kondisi jelanan desa tidak
keseluruhan rusak, ada jalanan yang sudah bagus yaitu di jalan masuk
menuju desa yang kondisinya sudah sangat bagus. Selain berkebun dan
bertani warga masyarakan desa Ketanggan juga berprofesi sebagai pedagang
di pasar. Hal ini di dukung oleh adanya pasar desa yang letaknya cukup
strategis.
Untuk
membantu permodalan warga yang ingin melakukan usaha, pemerintah desa
berinisiatif untuk membentuk sebuah lembaga permodalan dalam bentuk
koperasi atau badan usaha desa. BUMDES atau badan usaha milik desa ini
dikelola oleh perangkat desa dan beberapa warga masyarakat desa
Ketanggan. Lembaga ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian warga
dan dapat membantu modal warga. Selain itu fungsi dari BUMDES ini adalah
untuk menghilangkan rantai-rantai renternir di Desa Ketanggan tersebut.
Warga desa Ketanggan dapat digolongkan kedalam masyarakat menengah.
Jika dilihat dari banyaknya bangunan permanen dan semi permanen yang
ada. Dari total 482 rumah, 308 diantaranya dalah bangunan permanen.
Gambaran
singkat mengenai Desa Ketanggan diatas, semoga menjadi tambahan
informasi bagi sesiapapun yang membaca. Doa saya, semoga ARAK mampu
berkontribusi nyata bagi desa-nya, seperti yang tertuang dalam akta
pendirian paguyuban. Sisi lain, dengan melalui pertemuan yang rutin, ARAK dapat menginspirasi kaum perantau untuk
mengorganisir diri, berkontribusi bagi kampung halamannya. hormat kami Ahmad Mufidin, kauyin Fuck, Mus Tain atas Nama ARAK
(Anak Rantau Ketanggan) Kami mengucapkan sukses selalu dan barokah amin.





Tak komen ah
BalasHapus