Selasa, 19 April 2016

ANAK RANTAU KETANGGAN

ARAK : ANAK RANTAU KETANGGAN
Bila sebuah paguyuban, perkumpulan atau komunitas perantau dengan mencantumkan nama daerah asal kabupaten atau kota atau merujuk dari wilayah/ daerah , tentu lazim sering kita tahu. Selama ini, seperti Suling Mas (Banyumas – Jateng), Sanyuri (Santi Paguyuban Kediri – Jatim) dll misalnya. Tapi, ini sungguh lain. Mereka adalah kaum perantau asal sebuah desa, yang bermukim di kota besar (Jakarta). Yang saya maksud adalah, ARAK (Anak Rantau Ketanggan), perantau dari desa Ketanggan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Keberanian kaum perantau berkumpul  Meski baru berusia 1Tahun, dibentuk awal 2014 lalu, ARAK telah melesat dengan dasar yang kuat yaitu silaturahmi sesama perantau satu desa, dengan menuangkan AD/ART (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) dalam sebuah akta pendirian di notaries. Membaca sekilas isi AD ART-nya, saya kagum akan kemampuan mereka menorganisir paguyuban dengan berbegas menyusun kepungurusan (struktur organisasi), menghimpun kas, membuat program kerja, dan bersosialisasi tak hanya bagi anggota dan calon anggotanya, pula melalui media.
menghadirkan tiga orang pegiat ARAK masing masing kauyin Fuck, Ahmad Mufidin dan Mus Tain, terungkap mereka berhimpun dan berorganisasi karena persamaan nasib seperantauan di Jakarta. Setidaknya, tak hanya silaturahmiu atar anggotanya di Jakarta yang baru tercatat 200 orang anggota, mereka juga ingin menyumbangkan pemikiran, ide dan apapun yang mereka mampu untuk kampong halamannya di Ketanggan, Batang Jateng.
Menurut Ahmad Mufidin, anggota yang terdata berlatar belakang beragam, mulai dari perantau yang bekerja di sektor informal, wiraswastawan, wirausahawan, hingga aparat, mahasiswa, semuanya sangat aktif berkontribusi bagi paguyubannya. Mus tain yang datang ke Jakarta pada tahun 96an, memilih merantau karena tuntutan memperbaiki kehidupan yang lebih baik secara ekonomi, kini menjadi pedagang yang cukup menggiurkan di jalan Tawakal 11 Jakarta Pusat.
Sementara Kouyin Fuck, sesuai namanya merantau ke Jakarta sejak tahun 1990. Setelah beberapa pekerjaan ditekuninya, kini memilih usaha mandiri dengan membuka toko matrial di jalan Tomang Tinggi jakarta. “Saya memilih merantau ke Jakarta karena waktu itu ndak mungkin melanjutkan membantu orang tua saya bertani. Desa kami hanya mengandalkan pengairan system tadah hujan, sehingg sulit untuk mengembangkan pertanian”, kata kouyin menjawab pertanyaan saya saat pertemuan.
Hal-nya kesuwan, yang merantau di jakarta sejak 9 tahun lalu, pilihan merantau ke kota besar adalah pilihan terbaik bagi dirinya.
Desa Ketanggan sebenarnya desa yang tak sulit ditemukan, bila kita melakukan perjalanan darat melalui kereta api. Desa ini desa yang lengkap secara geografis, pasalnya miliki dataran tinggi, kawasan perkebunan, lahan hutan produksi, sawah, bahkan sekaligus desa pesisir pantai. Jadi bila kita naik kereta api, melalui pantura, kita bisa menemukan desa ini setelah melewati stasiun Tegal, Pekalongan, Batang dan Kendal. Diantara stasiun Batang dan Kendal, ada stasiun kecil, namanya Plabuan. Nama Plabuan adalah salah satu pedukuhan di desa Ketanggan.
KETANGGAN ; Pesisir, Sawah & Perkebunan
petanggan-02Membaca seksama potensi desa ini melalui http://asalmenang.blogspot.com/2013/12/desa-ketanggankec-gringsing-kab-batang.html yang diakses pada Kamis, 25 Juni 2015 pukul 01:30 WIB, digambarkan umum Desa Ketanggan merupakan desa yang terletak di kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang Jawa Tengah, sekitar 7 km dari pusat kota. Luas desa Ketanggan 1.061.739 Ha terdiri atas sawah dan lahan kering, terletak pada koordinat 060 56’ 660” S dan 1090 57’ 166”.
Desa Ketanggan Terdiri dari 28 RT dan 7 Dukuh diantaranya yaitu Sidorejo, Sipelem,Bantaran, Rancangsari, Ketanggan, Sidosari dan Plabuan. Masing – masing pedukuhan dipimpin oleh seorang ketua RW. Pedukuhan Plabuan merupakan pedukuhan yang terletak paling dekat dengan pantai utara jawa dan sebagian besar penduduknya adalah nelayan. Pedukuhan ini dilintasi juga oleh rel kereta api jalur pantai utara
j
awa. Terdapat sebuah stasiun kecil di desa ini yang biasa digunakan oleh wisatawan untuk transit sebelum menuju ke lokasi pantai yang terdapat di dukuh ini. Batas wilayah desa nya, Utara - Laut jawa, Selatan Desa Penundan dan Desa Timbang, sebelah barat Desa Sawangan, dan timur Kecamatan Limpung.
petanggan-03Desa Ketanggan merupakan desa yang mayoritas lahannya adalah lahan perkebunan. Lahan tersebut sebagian adalah milik dari perusahaan perkebunan nusantara PTP Siluwk Sawangan, perkebunan yang besar pada jaman Hindia Belanda mengolah getah Karet dan Kapuk. Sebagai desa pesisir, yang juga berpasir, menjadikan desa Ketanggan rawan dengan abrasi pantai, terutama dukuh Plabuan yang terletak di paling dekat dengan pantai. Hal ini disebabkan karena di Desa Ketanggan tidak terdapat bangunan penahan gelombang air laut, selain itu kondisi karang yang dalam kondisi rusak juga memperparah abrasi yang terjadi.
Lokasi yang terdapat abrasi paling buruk adalah pada koordinat 060 55’ 180” S dan 1090 57’ 029”. Selain itu kondisi ini diperparah dengan tidak adanya hutan mangrove di sekitar pantai. Hal ini dikarenakan masyarakat sekitar tidak melakukan perawatan terhadap mangrove yang telah ditanam.
Warga masyarakat desa Ketanggan mayoritas berpendidikan lulusan Sekolah Dasar. Sehingga menyebabkan tingkat pendidikan di desa Ketanggan masih rendah. Namun demikian masyarakat Ketanggan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya banyaknya kegiatan sosial yang menjadi adat warga desa Ketanggan. Adat tersebut dipercaya bisa digunakan untuk menolak bencana, selain itu juga sebagai perwujudan syukur kepada allah atas hasil yang didapat. Beberapa adat tersebut adalah legenongan atau bersih desa, sedekah bumi, dan nyadran atau sedekah laut. Selain itu juga ada kegiatan sosial lainnya yaitu pengajian rutin karena sebagian besar warganya adalah pengikut kelompok Nahdatul Ulama. Total penduduk yang tinggan di desa Ketanggan adalah sejumlah 6.041 warga dan semuanya adalah pemeluk agama islam. Dari jumlah total tersebut, 3.539 warga lebih dari 50% warga masih berpendidikan rendah yaitu tamatan sekolah dasar (SD) bahkan ada yang belum tamat. ( Sumber: Statistik potensi desa Ketanggan 2013)
ketanggan-04Desa Ketanggan merupakan desa yang tergolong agamis, namun masih tetap melestarikan kebiasaan adat mereka. Hal ini terlihat dari mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama islam. Selain itu dibangunnya masijid desa yang diperkirakan akan dapat menampung seluruh warga desa yang dibangun secara gotong royong dan swadaya masyarakat. Masjid tersebut didanai oleh pemerintah desa. selain itu juga ada infaq swadaya dari masyarakat sekitar. Kemudian juga ada salah satu aliran islam nasional yang ada di desa Ketanggan yaitu adalah kelompok pengajian Nahdlatul ulama. Kelompok pengajian ini secara rutin mengadakan pengajian untuk warga desa Ketanggan. Masyarakat desa Ketanggan juga masih melestarikan budaya adat mereka yang dipercaya dapat menolak bencana yaitu nyadran, legenongan dan sedekah bumi. Upacara adat ini sebagai perwujudan rasa syukur terhadap hasil bumi atau laut yang telah di berikan dari sang pencipta.
Warga masyarakat desa Ketanggan mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan buruh perkebunan. Walaupun lokasinya di daerah pesisir namun luas pantai dan luas wilayah perkebunan lebih luas area perkebunan dan pertanian. Kondisi persawahan di desa Ketanggan mengandalkan pasokan air dari air hujan dan dari sarluran irigasi. Selain itu adanya PTP Siluok Sawangan disatu sisi menjadi tempat mencari nafkah warga sekitar namun disisi lain juga merugikan desa dengan rusaknya jalan desa. Banyaknya truk – truk pengangkut hasil perkebunan yang melewati jalan desa sehingga merusak jalanan desa. Namun kondisi jelanan desa tidak keseluruhan rusak, ada jalanan yang sudah bagus yaitu di jalan masuk menuju desa yang kondisinya sudah sangat bagus. Selain berkebun dan bertani warga masyarakan desa Ketanggan juga berprofesi sebagai pedagang di pasar. Hal ini di dukung oleh adanya pasar desa yang letaknya cukup strategis.
Untuk membantu permodalan warga yang ingin melakukan usaha, pemerintah desa berinisiatif untuk membentuk sebuah lembaga permodalan dalam bentuk koperasi atau badan usaha desa. BUMDES atau badan usaha milik desa ini dikelola oleh perangkat desa dan beberapa warga masyarakat desa Ketanggan. Lembaga ini diharapkan mampu meningkatkan perekonomian warga dan dapat membantu modal warga. Selain itu fungsi dari BUMDES ini adalah untuk menghilangkan rantai-rantai renternir di Desa Ketanggan tersebut. Warga desa Ketanggan dapat digolongkan kedalam masyarakat menengah. Jika dilihat dari banyaknya bangunan permanen dan semi permanen yang ada. Dari total 482 rumah, 308 diantaranya dalah bangunan permanen.
Gambaran singkat mengenai Desa Ketanggan diatas, semoga menjadi tambahan informasi bagi sesiapapun yang membaca. Doa saya, semoga ARAK mampu berkontribusi nyata bagi desa-nya, seperti yang tertuang dalam akta pendirian paguyuban. Sisi lain, dengan melalui pertemuan yang rutin, ARAK dapat menginspirasi kaum perantau untuk mengorganisir diri, berkontribusi bagi kampung halamannya. hormat kami Ahmad Mufidin, kauyin Fuck, Mus Tain atas Nama ARAK (Anak Rantau Ketanggan) Kami mengucapkan sukses selalu dan barokah amin.

1 komentar: